Follow by Email

Jumat, 09 September 2011

TASAWUF DI INDONESIA


                                            TASAWUF DI TANAH AIR                                                                      
A.    Pendahuluan
                         Ajaran tasawuf di indonesia, tercatat sejak masuknya agama islam dinegeri ini. Para pedagang muslim mengislamkan oang-orang indonesia, tidak hanya menggunakan pendekatan bisnis, tetapi juga menggunakn pendekatan tasawuf.
            Suburnya perkembangan tasawuf di indonesia, kerena di latar belajangi oleh kepercayaan yang dianutnya, sama halnya dengan perkembangan  di india dan Persia sebelum nya. Tentu saja, para muballigh yang memperkenalkan tasawufnya, mempunyai corak yang berbeda-beda pula.
            Dalam pembahasan ini di kemukakan sebagian ulama tasawuf dengan aliran yang dianut nya.[1]    
   
         Membahas tentang perkembangan tasawuf di indonesia tidak akan terlepas dari pengkajian proses islamisasi dikawasan ini sebab penyebaran islam di nusantara sebagian besar merupakan jasa dari sufi tersebut.
                         Perlu kita ketahui bahwa dai sekian banyak naskah lama yang berasal dari Sumatra, baik yang ditulis dalam bahasa arab maupun bahasa melayu, berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf merupakan unsur dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lainnya, kita bias melihat pengaruh yang sangat besar dari para sufi ini di tanah Aceh maupun di tanah jawa. Dikawasan Sumatra bagian utara saja setidak nya ada empat sufi terkemuka, antara lain Hamzah fansuri (sekitar abad 14 m) yang terkenal dengan karya nya yang berjudul Asrar Al-‘Arifin dan Syarab Al-Asyikin serta beberapa kumpulan syair sufistik nya. Syamsuddin Pasai, penulis kitab Jauhar Al-Haqoriq dan Miraat Al-Qulub. Dia adalah murid dan pengikut Hamzah fansuri yang mengembangkan doktrin Wahdat Al-Wujud Ibn Arabi.
                          Berbeda dengan kedua tokoh di atas, Abd. Rauf Singkel (w.1639) merupakan penganut Tarekat Syattariah, ini bisa kita lihat dari karya nya yang berjudul Miraat Ath-Thullab. Tokoh popular lainnya adalah Nuruddin Ar-Raniri (w. 1644) Penulis Bustan As-Salatini. Dari kitab ini, kita bisa mengetahui bahwa ia adalah pengikut tasawuf sunni dan penentang tasawuf hamzah fansuri, disamping ia adalah penasehat Iskandar Tsani. Semua sufi besar ini merupakan penasihat sultan pada masanya.
                     Sejak berdirinya kerajaan islam pasai, kawasan itu menjadi titik sentral penyiran agama islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara pulau jawa. Islam tersebar di ranah minangkabau atas upaya Syehk Burhanuddin Ulaka (w. 1693 M), murid Abd Rauf Singkel, yang terkenal sebagai syehk Terekat Syattariah. Sampai sekarang, kebesaran shehk dari ualakan ini sebagai sufi besar, tetap di abadikan masyarakat pesisir minangkabau melalui upacra ‘busapa’ di ulakan pada setiap bulan safar. Ulama-ulama besar yang muncul kemudian di daerah ini, pada umum nya berasal dari Syehk Ulakan, seerti Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku pasaman, Tuanku Lintau, dan lain-lain. Orang orang minagkabau yang gemar merantau, menyebarkan agama islam ke berbagai daerah di Sumatra bagian tengah dan selatan, Kalimantan, Sulawesi, daan daerah sekitarnya. Penyebaran islam kepulau jawa, juga berasal dari kerajaan pasai, terutama atas jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak, dan Ibrahim Asmoro, yang ketiga nya adalah abisturen pasai. Melalui keuletan mereka itulah, berdiri kerajaan demak yang kemudian menguasai Banten dan Batafia melalui Syarif Hidayatullah.[2]
                                                                       
            B. TASAWUF DI INDONESIA
           1. Hamzah  Al-Fansuri 
                     a. Riwayat Hidup Hamzah Al-Fansuri
            Nama Hamzah Al- Fansuri di Nusantara tidak asing lagi di kalangan Ulama dan penyidik sarjana penyidik ke keislaman. Hampir semua penyidik sejarah islam mencatat bahwa Shekh Hamzah Al-Fansuri dan muridnya Syekh samsuddin Sumatrani termasuk tokoh sufi yang sepaham dengan Al-Halaj. Paham hullul,ittihat,mahabbah, dan lain-lain adalah seirama. Syekh Hamzah Fansuri di akui salah seoraang pujangga islam  yang sangat popular pada zamannya sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesustraan melayu dan indonesia. Namanya tercatat sebagai seorang kaliber besar dalam perkembangan islam di Nusantara dari abad nya hingga abad kini. Dalam buku buku sejarah mengenai Aceh, Namanya selalu di uraikan dengan panjang. Dada Meurexa pernah mengatakan dalam seminar masuknya islam ke indonesia, sebagai berikut:
   “Memerhatikan Ulama-Ulama islam bermunculan dizaman dahulu berasal dari fansuri juga, misalnya syekh Hamzah Fansuri, Syehk Abdul Murad, Shekh Burhanuddin (murid Syekh Abdur Rauf Al-Fansui) semua asal nya barus, Syamsuddin Pasai adalah murid dari Hamzah Al-Fansuri. Ini membuktikan bahwa pada abad ke-16 saja telah tergambar dengan jelas tentang sumber-sumber Ulama-ulama besar yang masih masyhur sampai sekarang.”[3]
Meskipun keberadaan AL-Fansuri di yakini para ahli, tahun dan tempat kelahirannya hingga sekarang masih belum di ketahui. Ketidak jalasan riwayat Al-Fansuri ini disebabkan tidak di masukkanya nama Al-Fansuri dalam dua sumber penting sejarah Aceh, yakni Hikayat Aceh dan Bustanus Salatin, yang di tulis atas perintah Sultan.[4]
Berdsrkan kata ‘fansur’ yang menempel pada namanya, sebagian peneliti beranggapan bahwa ia berasal dari fansur, sebutan Orang Arab terhadap Barus yan sekarang merupakan kota kecil di pantai barat Sumatra utara, yang terletak di antara sibolga dan Singkel. Dalam salah satu syairnya, ia menulis:
      Hamzah nur asalnya Fansuri
  Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi
      Beroleh khalifah ilmu yang ‘ali
      Dari pada Abdul Qadir Sayyid Jailani.
Ada orang berpendapat bahwa ‘‘Syahru Nawi’’ ( pada baris ke dua ) adalah Bandar Ayuthia, ibukota Kerajaan Siam pada zaman silam. Pendapat lain bahwa Syahru Nawi adalah nama lama dari tanah Aceh, sebagai peringatan bagi seorang pangeran siam bernama Syahri Nuwi, yang datang ke Aceh pada zaman dahulu         dan membangun Aceh sebelum datang nya islam.
Orang banyak menentang Al-Fansuri karena paham wihdatul wujud, hulul, ittihad-nya sehingga terlalu mudah bagi orang lain untuk mengecap dirinya seoang yang zindiq,sesaat, kafir, dan sebagai nya. Ada orang yang menyangka nya sebagai pengikut ajaran syi’ah. Ada juga yang mempercayainya bahwa ia bermazhab syafi’I di bidang fiqih. Dalam tasaawuf, ia mengikuti tarekat Qadiriah yang di bangsakan pad Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Syair-syair Syekh Hamzah Fansuri terkumpul dalam buku-buku yang terkenal. Dalam kesustraan melayu/indonesia, tercatat buku-buku syairnya, antara lain Isyir Burung pangai, syair dagang, Sair pangguk, Syair Sidang Fakir, Syair Ikan Tongkol, dan syir Perahu. Karangan-karangan Hamzah Fansuriyang berbentuk kitab ilmiah antara lain Asrarul’ Arifin Fi Bayani Ilmis Suluki wat Tauhid, Syarbul Asyiqin Al-Muhtadi, Ruba’I Hamzah Al-Fansuri.[5]
Tampaknya, Syekh Hamzah Fansuri adalah seorang ahli bahasa dan bahasa yang pasti di kuasaainya adalah bahasa Arab,bahasa, bahasa Farsi, dan bahasa Melayu. Ini dapat di ketahui dari kalimat nya,
‘‘Amma ba’du. Adapun kemudian dari pada itu maka ketahui olehmu, hai sudaraku, bahwa al-faqi al-haqir al-dhaif al-khalif Hamzah fansuri radhiallahu anhu, hendak menanyakan jalan kepada Allah dengan bahasa jawa dalam kitab ini saat sampi ssegala hamba yang tidak bahwa bahasaa Arab dan Farsi dapat memahami nya.
        Hamzah Fansuri sangat giat mengajarkan ilmu tasawuf menurut keyakinan nya. Ada riwayat yang mengatakan bahwa ia pernah sampai ke seluruh semenanjung dan mengembangkan tasawuf di negeri Perak, Perlis, Kelantan, Terengganu dan lain-lain.

b.  Ajaran Tasawuf Hamzah Al-Fansuri
        Pemikiran Al-Fansuri tentang tasawuf banyak di pengaruhi Ibn ‘Arabi dalam paham wahdat wujud-nya. Sebagai seorang sufi, ia mengajarkan bahwa tuhan lebih dekat dari pada leher mabusia sendiri, dan bahwa tuhan tidak bertempat, sekalipun sering di katakan tuhan ada di mana-mana. Ketika menjelaskan ‘‘fainama tuwallu fa tsamma wajhu’llah’’,ia mengatakan bahwa kemungkinan memandang wajah Allah di mana-mana merupakan unio-mistica. Para sufi menafsirkan  ‘wajah Allah’ sebagi sifat-sifat tuhan, seperti pengasih, penyayang, jalal, dan jamal. Dalam satu syirnya, Al-Fansuri berkata,
        Mahbubmu itu tiada berha’il,
Pada ayna ma tuwallu jangan kau ghafil,
Fa tsamma wajhullah ssempurna wasil.
Hamzah Inilah jalan orang yang kamil.
      Al-Fansui menolak ajaran pranayama dalam agama hindu yang membayangkan tuhan berada di bagian tertentu dar tubuh, seperti ubun-ubun yang di pandang sebagai jiwa dan dijadikan titik konsentrasi dalam usaha mencapai persatuan.
            Ajaran tasawuf Al-Fansuri yang lain berkaitan dengan hakikat wujud dan penciptaan. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu walupun kelihatan banyak. Dari wujud yang saat ini, ada yang merupakan kulit (mazhhar, kenyataan lahir) danada yang berupa isi (kenyaataan batin).semua benda yang ada sebenarnya merupakan manifestasi dari yang hakiki, yang di sebut Al-Haqq Ta’ala. Ia menggambarkan wujud tuhan bagaikan lautan dalam yang tak bergerak, sedangkan alam semesta merupakan gelombang lautan wujud Tuhan. Pengaliran dari zat yang mutlak ini di umpamakan di umpamakan gerak ombak yang menimbulkan uap, asap, dan awan yang kemudian menjadi dunia gejala. Itulah yang disebut ta’ayyun. Itu pulalah tanazul. Kemudian, segala sesuatu kembali lagi kepada tuhan (taraqqi), yang di gambarkan sebagai uap, asap, awan, lalu hujan dan sungai, dan kembali lagi ke hutan.
            Pengembaraan yang pernah di lakukan Al-Fansuri berupa jasad dan rohani di ungkapkan dengan  syair,
            Hamzah Fansur di dalah Mekkah,
            Mencari tuhan di Baitul Kabah,
Di Barus ke kudus terlalu payah.
Akhirnya dapat di dalam rumah.
                                                                                                               Syair Al-Fansuri yang lain adalah,
Hamzah Gharib,
Akan rumahnya Baitul Ma’muri,
Kursinya sekalian kafuri,
Di negri fansur minal ‘asyjari.
Kata-kata Al-Fansuri di atas merupakan sindiran terhadap apa yang pernah di ucapkan Abu Yazid Al-Bustami, yang mengatakan bahwa tuhan berada dalam jubbah nya. Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat mutasyabihat, misalnya pada ayat, ‘‘Dimana kamu hadapkan wajahmu, di situ ada wajah tuhan. Kami lebih dekat dari pada urat leher.

2.   Nuruddin Ar-Raniri
a.   Riwayat Hidup Nurudi Ar-Raniri
            Ar-Raniri dilahirkan di Ranir, sebuah kota pelabuhan tua di pantai Gujarat, india. Nama lengkapnya adalah Nurudin Muhammad bin Hasanjin Al-Hamid Asy-Syafi’I Ar-Raniri. Tahun kelahiran nya tidak di ketahui dengan pasti,tetapi kemungkinan besar menjelang abad ke-16. Ia mengikuti langkah keluarganya daalm hal pendidikan nya. Pendidikan pertamanya di peroleh di Ranir dan kemudian di lanjutkan ke wilayah Hadhamaut. Ketika masih di negri asalnya, ia sudah banyak menguasai ilmu agama. Di antara guru yang paling banyak memengaruhinya adalah abu Nafs Sayyid Imam bin ‘Abdullah bin Syaiban, seorang guru Tarekat Rifa’iyah keturunan Hadhramaut-Gujarat, India.
            Menurut catatan Azyumardi Azra, A-Raniri merupakan tokoh pembaharuan di Aceh. Ia mulai melancarkan pembaharuan islamnya di Aceh setelah mendapat pijakan kuat di istana Aceh. Pembaharuan utamanya adalah memberantas aliran wujudiyah yang di anggap sebagai aliran sesat. Ar-Raniri di kenal juga sebagai syekh islam yang mempunyai otoritas untuk mengeluar fatwa menentang aliran wujudyyah ini. Bahkan lebih jauh, ia mengeluarkan fatwa yang mengarah pada perbuuan orang-orang sesat.[6]
            Di antara  karya-karya yang pernah di tulis Ar-Raniri adalah:
1.      Ash-Shirath Al-Mustaqim (Fiqh, bahasa Melayu)
2.      Bustan As-Salatin Fi Dzikr Al-Awwalin wa Al-Akhirin (bahasaa melayu)
3.      Durrat Al-Fara’adh bi sharhi Al-‘Aqa’id (Aqidah, bahasa Melayu)
4.      Syifa’ Al-Qulub (Cara-cara berzikir, bahasaa melayu)
b.  Ajaran Tasawuf Nuruddin Ar-Raniri
1. Tentang Tuhan
        Pendirian Ar-Raniri dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakalimin dengan paham para sufi yang di wakili Ibn ‘Arabi. Ia berpendapat bahwa ungkapan ‘wujud Allah dan alam Esa’ berarti bahwa ala mini merupakan sisi lahiriah dari hakikat nya yang batin, yaitu Allah, sebagai mana yang di maksud Ibn ‘Arabi. Namun, ungkapan itu pada hakikat nya adalah bahwa ala mini tidak ada. Yang ada hanyalah wujud Allah yang Esa. Jadi, jadi tidak dapat di katakana bahwa alam bahwa ala mini berbeda atau bersatu dengan Allah. Pandangan Ar-Raniri hamper sama dengan Ibn’ Arabi bahwa ala mini merupkan tajalli Allah. Namun, tafsirannya di atas membuat nya terlepas dari label pantaisme Ibn ‘Arabi.
 2.  Tentang Alam
            Ar-Raniri berpandangan ala mini di ciptakan Allah melalui tajalli. Ia menolak teori al-faidh (emanasi) Al-farabi karena akan membawa pada pengakuan bahwa ala mini kadaim sehingga dapat jatuh kepada kemusyrikan. Alam dan falak, menurut nya, meruooakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang konkret. Sifat ilmu ber-tajalli pada; nama rahman be- tajalli pada arsy, nama rahim ber-tajalli pada kursy, nama raziq ber-tajalli pada falak ke tujuh, dan seterusnya.
3.   Tentang Manusia
            Manusia, menurut Ar-Raniri, merupakan makhluk yyang paling sempuna di dunia ini sebab manusia merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya. Selain itu, karena manusia juga merupakan mazhhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh). Konsep insane kamil, menurutnya pada dasarnya hampir sama dengan apa yang telah digariskan Ibn ‘Arabi.
4.  Tentang Wujudiyyah
        Inti ajaran wujudiyyah, menurut Ar-Raniri, berpusat pada wahdat al-wujud, yang di salah artikan kaum wujudiyyah dengan ‘kemanuggalan Allah dengan alam’. Menurut pendapat Al-Fansuri, wahdat al-wujud dapat membawa kepada kekafiran. A-Raniri berpandangan bahwa jika benar  Tuhan dan makhluk hakikat nya satu, dapat di katakana bahwa manusia adalah tuhan dan tuhan adalah manusia sehingga jadilah seluruh makhluk adalah tuhan. Semua yang dilakukan manusia, baik maupun buruk, Allah serta melakukan nya. Jika demikian hal nya, manusia mempunyai sifat-sifat Tuhan.
5.  Tentang Hubungan Syariat dan Hakikat
      Pemisahan antara syariat dan hakikat, menurut Ar-Raniri, merupakan sesuatu yang tidak benar. Untuk menguatkan argumentasi nya, ia mengajukan beberapa  pendapat pemuka sufi, di antaranya syekh Abdullah Al-Aidarusi, yang mengatakan bahwa tidak ada jalan menuju Allah, kecuali melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang islam.[7]

3.   Syekh Abdur Rauf As-Sinkili
a.   Riwayat Hidup Abdur Rauf As-Singkili
       Abdur Rauf As-Sinkili adalah seorang ulama dan mufti kerajaan Aceh pada abad ke-17 (1606-1637 M). nama lengkap nya adalah Syekh Abdur Rauf bin ‘Ali Al-Fansuri. Sejarah telah mencatat bahwa ia merupakan murid dari dari dua Ulama sufi yang menetap di Mekah dan Madinah. Ia sempat menerima baiat Tarekat Syatariah di samping ilmu-ilmu sufi yang lain, termasuk sekte dan ruang lingkup ilmu pengetahuan yang ada hubungan dengan nya.
        Menurut Hasyimi, sebagaimana di kutip Azyumardi Azra, ayah As-Sinkili berasal dari Persia yang datang ke Sumatra  pasai pada akhir abad ke-13 dan kemudian menetap di Fansur, Barus, sebuah kota pelabuhan tua di pantai barat Sumatra. Pendidikan di mulai dari ayah nya di simpang kanan (sinkil). Kepada ayahnya, ia belajar ilmu-ilmu agama, sejarah, bahasa Arab, ­mantiq, filsafat, saastra Arab, Melayu dan bahasa Persia. Pendidikan nya kemudian di lanjudkan ke samudera pasai dan belajar did ayah tinggi pada syekh Syamsuddin As-Sumatrani. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Arabia.   
         Berkenaan dengan perjalanan rohaninya, As-Sinkili boleh memakai ‘khirqaq’, yaitu sebagai pertanda  telah lulus dalam pengujian secara suluk. Ia telah di beri selendang putih oleh gurunya sebagai pertanda pula bahwa telah di lantik sebagai khlifah Mursyid dalam orde Tarekat Syatariah. Yang berarti pula ia boleh membai’at orang lain. Telah diakui bahwa ia mempunyai silsilah yang bersambung dari gurunya hinga hingga kepada Nabi Muhammad SAW.
        As-Sinkili banyak mempunyai banyak murid, di antaranya adalah Syekh Buhanuddin Ulaka (w. 1111 H/1691 M) yang aktif mengembangkan tarekat Syattariah. Tersebarnya tarekat itu melai dari Aceh melaui jalur yang tepat hingga ke Sumatra barat menyusur ke Sumatra selatan dan berkembang pula hingga ke Cirebon, Jawa barat jika kita kaji dengan teliti selalu ada silsilah As-Sinkili.
            Dantara Karya-Karya As-Sinkili adalah:
1.      Mir’at Ath-Thullab (fiqh Syafi’I bidang muamalat)
2.      Hidayat Al-Baligha (fiqh tentang sumpah, kesaaksian, peradilan, pembuktian, dan lain-lain)
3.      ‘Umdat Al-Muhtajin (taswuf)
4.      Syams Al-Ma’rifah (tasawuf tentang makrifat)
5.      Kifayat tentang Al-Muhtajin (tasaawuf)
6.      Daqa’iq Al-Huruf  (tasawuf)
7.      Turjaman Al-Mustafidh (tafsir), dan lain-lain.
b.   Ajaran Tasawuf Abdur Ra’uf As-Sinkili
            Sebelum As-Sikili membawa ajran tasawuf nya, di Aceh telah berkembang  ajaran tasawuf falsafi, yaitu tasawuf wujudiyyah, yang kmudian dikenl dengan nama Wahdat Al-Wujud. Ajaran tasawuf Wujudiyyah ini di anggap Ar-Raniri sebagai ajaran sesat dan penganut nya di anggap sudah murtad. Terjadilah proses penghukuman bagi mereka. Tindakan Ar-Raniri dinilai As-Sinkili sebagai pebuatan yang terlalu emosional. As-Sinkili menganggap persoalan aliran Wujudiyyah dengan penuh kebijaksanaan.
            As-Sinkili berusaha merekonsilasi antara tasawuf dan syariat. Ajaran tasawufnya sama dengan Syamsuddin dan Nuruddin, yaitu menganut paham satu-satu nya wujud hakiki, yakni Allah, sedangkan alam ciptaan nya bukanlah meupakan wujud hakiki,tetapi bayangan dari yang hakiki. Menurut nya, jelas bahwa Allah berbeda dengan alam. Walaupun demikian, antara bayangan (alam) dengan yang memancarkan bayangan (Allah) tentu terdapat keserupaan. Sifat-sifat manusia adalah bayangan-bayangan Allah, seperti yang hidup, yang tahu, dan yang melihat. Pada hakikatnya, setiap perbuatan adalah perbuatan Allah.
         Zikir dalam pandangan As-Sinkili, merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengannya, hati selalu mengingat Allah. Tujuan zikir adalah mencapai fana’ (tidak ada wujud selain wujud Allah), Berarti wujud berzikir bersatu dengan wujud nya, sehingga yang mengucapkan zikir adalah Dia.
            Ajaran tasawuf As-Sinkili yang lain bertalian dengan martabat perwujudan tuhan. Petama, martabat ahadiyyyah atau la ta’ayyun, yaitu alam pada waktu itu masih merupakan hakikat gaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan. Kedua, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal,yang sudah tercipta hakikat Muhammadiyyah yang potensial bagi tercipta nya alam. Ketiga, martabat wihadiyyah atau ta’ayyun tsani, yang di sebut juga dengan ‘ayan tsabitah, dan dari sinilah, alam tercipta. Menurutnya, ucapan, ‘‘Aku Engkau, Kami Engkau, dan Engkau ia’’ hanya benar pada tingkat wahdah atau ta’ayyun awwal karena unsur tuhan dan unsur manusia pada tingkat itu belum dapat di bedakan. Tingkat itulah yang dimaksud Ibn ‘Arabi dalam syair-syairnya. Akan tetapi, pada tingkatan wahidiyyah atau ta’ayyun tsani, alam telah memiliki sifat sendiri, Tetapi tuhan cermin bagi insan kamil dan sebalik nya. Namun, Ia bukan ia, bukan pula yang lainnya. Bagi As-Sinkili, jalan untuk mengesakan tuhan adalah dengan berzikir la ilaha illa’ llah sampai tercipta fana.[8]

4.   Syekh Yusuf Al-Makasari
a.    Riwayat Hidup Syekh Yusuf Al-Makasari
        Syekh Yusuf Al-Makasari adalah seorang sufi agung yang berasal dari Sulawesi. Ia dilahirkan pada tanggal 8 syawal 1036 H atau bersamaan dengan 3 juli 1629 M, yang berarti tidak berapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar islam ke Sulawesi ( yaitu datuk Ri Bandang dan Kawan-kawan nya dari minang kabau). Dalam salah satu krangannya, ia menulis ujung namanya dengan bahasa Arab ‘Al-Makasari’, yaitu nama kota di Sulawesi selatan ( Ujung pandang). Nalui fitrah pribadi Syekh yusuf sejak kecil telah menampakkan cinta akan pengetahuan ke islaman. Dalam tempo yang relatif singkat, ia telah tamat mempelajari Al-Quran 30 juz. Setelah lancer tentang Al-Quran dan mungkin termasuk seorang penghafal, ia melanjutkan mempelajari pengetahuan lain, seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, maani, badi’, balaghah, dan manthiq. Ia pun belajar pula ilmu fiqh, ilmu ushuluddin dan ilmu tasawuf. Ilmu yang terakhir ini tmpak nya lebih serasi pada dirinya.
      Syekh Yusuf prnah melakukan perjalanan ke yaman. di yaman dia menerima tarekat dari syekh nya yang terkenal, yaitu syehk Abi Abdullah Muhammad Baqi Billah. Pengetahuan tarekat yang dipelajarinya cukup banyak, bahkan sukar mencri ulama yang mempelajari sekian banyak terekat serta mengamal kannya seperti dirinya, baik dimasa nya maupun masa kini. Secara ringkas tarekat tarekat-tarekat yang dipelajarinya adalah sebagai beirkut:.
1.      Tarekat Qdiriyah diterima dari Syekh Nurudin Ar-Raniri di Aceh
2.      Tarekat Naqsabandiyah diterima dari Syekh Abi Abdillah Abdul Baqi billah.
3.      Tarekat As-Saadah Al-Baalawiyah diterimanya dari Sayyid Ali di Zubeid, Yaman.
4.      Tarekat Syattariyah iterimanya dari Ibrahim Al-Kurani Madinah.
5.      Tarekat Khalwatiyah diterimanya dari Abdul Barakat Ayub Bin Ahmad bin Al-Khalwati Al-Quraisyi di Damsyid. Syekh ini adalah imam di masjid Muhyiddin Ibnu’ Arabi, dan lain-lain.
b. Ajaran Tasawuf Syekh Yusuf Al-Makasari
            Berbeda dengan kecenderungan sufisme pada masa-masa awal yang mengelakkan kehidupan duniawi, Syekh Yusuf mengembangkan pardigma sufistik nya bertolak dari asumsi dasar ahwa ajaran islam meliputi dua aspek, yaitu aspek lahir (syariat) dan aspek batin (hakikat). Syariat dan hakikat harus dipandang dan diamalkan sebagai satu kesatuan.
            Meskipun berpegeng teguh pada trnsedensi Tuhan dan, ia meyakini bahwa tuhan melingkupi segala sesuatu dan selalu dekat dengan sesuatu itu. Mengenal hal ini,Syehk Yusuf mengembangkan istilah al-ihathah (peliputan) dan al-ma’iyyah (kesertaan). Kedua istilah itu menjelaskan bahwa tuhan turun (tanazul), sementara manusia naik (taraki), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakindekat. Yehk Yusuf menggarisbawahi bahwa pros ini tidak akan mengambil bentuk kesatuan wujud antara manusia dengan tuhan. Sebab, al-ihathah dan al-ma’iyyah Tuhan terhadap hamba-nya adalah secara ilmu. Menurutnya, fana’ adalah hamba yang tidak memiliki kesadaran tentang dirinya, merasa tidak ada, hanya iamenyadari sebagai yang mewujudkan, yang di wujudkan, dan perwujudan . pandangannya tantang tuhan tersebut secara umum mirip dengan wahat al-wujud dalam filsafat mistik Ibn ‘Arabi.
         Syeh yusuf berbicara pula tentang insan kamil dan proses penyucin jiwa. Ia mengatakan seorang hamba akan tetap hamba walaupun telah naik derajatnya, dan tuhan akan  tetap tuhan walaupun turun pada diri hamba. Dalam proses penyucian jiwa, ia menempuh cara yang moderat.[9]




     

                                                                                                                           

C.  Penutup
Dari sekian banyak naskah lama yang berasal dari Sumatra, baik yang ditulis dalam bahasa Arab maupun bahasa melayu, adalah berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf menjadi unsur yang dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lainnya, kita melihat bagaimana pengaruh yang sangat besar dari para sufi ini dalam mempengaruhi  kepemmpinan raja, baik yang ada di tanah Aceh maupun yang ada di tanah jawa.
Tokoh-tokoh sufi yang mempengaruhi perkembangan tasawuf di indonesia, di antaranya Hamzah Al-fansuri, Nurudin Ar-raniri, Syehk Abdul rauf As-sinkili, dan syehk Yusuf Al-Makasari.
Tokoh-tokoh sufi tersebut mempunyai pemkiran-pemikiran yang beragam. Pemikiran-pemikiran Al-Fansuri tentang tasawuf banyak dipengaruhi Ibn ‘Arabi dalam paham wahdat wujud nya. Sebagai seorang sufi, ia mengajarkan bahwa tuhan lebih dekat daripada leher manusia sendiri, dan bahwa tuha tidak bertempat, sekalipun dikatakan bahwa ia ada di mana-mana.
Paham Ar-raniri dalam masalah ketuhanan umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili Ibn ‘Arabi.
Ajaran tasawuf As-Sinkili yang bertalian dengan martabat perwujudan Tuhan. Menurut nya, ada tiga macam perwujudan Tuhan. Pertama, martabat ahaadiyyah, yang potensial bagi tercipta nya alam. Ketiga, wahidiyyah atau ta’ayyun tsani, yang disebut juga dengan ‘ayan tsaabitah, dan dari sinilah alam tercipta.





                [1] Drs Damanhuri, Mag. Akhlak Tasawuf, (Banda Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh, 2005-2010,),Hal 59.
                [2] DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ahklak Tasawuf,( Bandung: Pustaka Setia, 2009), Hal 237-238.
                [3] Hawash Abdullah. Perkembangan Ilmu Tasawuf Dan Tokoh-Tokohnya Di Nusantara.(Surabaya: Al-Ikhlas. 1990). Hlm.35
                [4] Abdul Hadi W.M. Hamzah Al-Fansuri. (Bandung:Mizan. 1995).Hlm. 14.
 [5] Hawas Abdullah. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara.(Surabaya: Al-Ikhlas. 1990). Hlm. 35.
                [6] Ahmad Daudi. Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syekh Nuruddin Ar-Raniri. (Jakarta: Rajawali. 1993. Hlm. 36.
[7] Ibid. hlm. 37.
                [8] Harun Nasution. Et. Al. (Ed). Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jilid 1, (Jakarta: Abdi Utama, 1993), Hal, 33.      
[9]  Abu Hamid. Syekh Yusuf Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang. Jakarta: Yayasan Obor. 1994. Hlm. 173.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar